Showing posts with label budidaya ikan. Show all posts
Showing posts with label budidaya ikan. Show all posts

Friday, January 4, 2019

Cara Pembesaran Budidaya Ikan Gurame

Pembesara ikan gurame menjadi usaha yang paling akhir dilakukan setelah proses pembenihan, pembesaran merupakan kegiatan pemeliharaan yang bertujuan untuk menghasilkan ikan ukuran konsumsi. Permintaan pasar mengenai ukuran konsumsi pada ikan gurame sangat bervariasi, namun saat ini di pasaran yang cukup ramai diminati yaitu 2-3 /kg nya. Tentu hal tersebut akan menjadi patokan bagi para pembudidaya guna mengatur durasi waktu selama budidaya.

Pembesaran gurame dapat dilakukan hampir di segala tempat, mulai dari air yang tenang maupun air yang mengalir. Asalkan ketersediaan air tercukupi, baik kualitas dan kuantitasnya. Upayakan lokasi budidaya aman untuk usaha pembesaran, baik aman dari kondisi alam, gangguan hama, maupun ulah jahil manusia.

Selama masa pembesaran pada ikan gurame, terdapat tahapan-tahapan yang dapat menunjang kelangsungan hidup pada ikan gurame, antara lain:

1. Pemilihan Benih
Banyak pendapat yang mengatakan, bahwa salah satu faktor yang dapat menyebabkan kegagalan selama budidaya ikan gurame adalah kualitas benih yang tidak bagus. Oleh sebab itu bagi para pembudidaya ikan gurame harus lebih cermat dalam memilih kualitas benih yang baik.

Saat hendak memasukan benih ke dalam media kolam yang baru, maka benih ikan gurame supaya dilakukan adaptasi terlebih dahulu. Jika benih berasal dari lokasi yang sama dengan kolam pembesaran, hal ini tentu tidak akan menjadi masalah. Tetapi jika benih didatangkan dari tempat yang jauh dan berbeda, maka butuh penyesuaian atau aklimatisasi perlu dilakukan, sebab adanya perbedaan kualitas air antara lokasi asal dengan tempat barunya, serta pengaruh transportasi yang jauh dan lama sehingga benih gurame kekurangan oksigen.

2. Media Pembesaran
Pembesaran gurame dapat dilakukan di berbagai media kolam termasuk kolam beton atau terpal. Pada budidaya ikan gurame yang menggunakan kolam beton/semen atau kolam terpal penggantian air dapat dilakukan, atau dapat juga tidak dilakukan. Jika dilakukan tanpa pergantian air, maka kepadatan tebar benih sekitar 10 ekor/m2. Dan jika dilakukan dengan pergantian air, kepadatan tebar benih bisa lebih dari itu.

Apabila menggunakan kolam tanah, sebelum tebar benih terlebih dahulu supaya melakukan pengapuran pada permukaan kolam tanah, agar tanah lebih gembur sekaligus membunuh hama dan penyakit. Dosis kapur yang diperlukan yaitu 150-250 kg/ha. Selanjutnya lakukan pemupukan guna meningkatkan kesuburan pada tanah kolam budidaya. Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik.

3. Pertumbuhan Ikan
Pertumbuhan ikan merupakan proses bertambahnya ukuran panjang dan berat ikan dalam suatu waktu. Pertumbumhan merupakan proses biologi kompleks yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Laju pertumbuhan ikan gurame dapat dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam yang dapat berpengaruh seperti genetika, seks, umur, berat, dan penyakit. Sedangkan faktor luar yang berpengaruh bagi pertumbuhan ikan yaitu suhu, oksigen, pH, CO2, amonia, pakan dan kepadatan.

Kedua faktor tersebut tentu harus menjadi perhatian khusus selama masa budidaya atau kurun waktu tertentu, agar pertumbuhan pada ikan terus berkembang dengan baik seiring waktu. Selain itu, pakan yang cukup dan gizi berimbang, pertumbuhan ikan dapat berkembang dengan pesat. Pakan yang penting dalam masa pertumbuhan adalah protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin. Oleh sebab itu upayakan semua kebutuhan pada ikan agar tercukupi.

4. Pemberian Pakan
Untuk merangsang pertumbuhan pada budidaya ikan gurame perlu diberikan pakan secara kontinu, karena di dalam media kolam kebutuhan pakan alami sangat sedikit ketersediaannya. Pakan alami akan mengalami ketidakseimbangan di dalam kolam, sebab kepadatan ikan selama budidaya.

Pakan dapat diberikan secara bergantian (selang-seling) antara pakan pellet dengan pakan dedaunan. Pellet dengan kandungan protein 30-46% dapat diberikan 2-3% dari berat total perharinya, sedangkan pakan dari dedaunan dapat diberikan 5-10% per 1 atau 2 hari sekali. Pakan dapat diberikan frekuensi 2-3 kali sehari. Untuk budidaya yang berada di hawa yang dingin, pakan dapat dicampur dengan ragi tape secukupnya saja, hal ini dapat membantu menghangatkan suhu tubuh pada ikan secara alami.

5. Pemanenan
Pemanenan gurame dilakukan sesuai dengan permintaan pasar. Ukuran gurame konsumsi sekitar 2-3 ekor/kg. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca teduh, pada saat pagi hari atau sore hari. Hal tersebut guna menghindari ikan gurami tidak rusak saat terkena sinar matahari. Setelah dipanen, ikan sebaiknya dilakukan karantina selama kurang lebih 2-3 hari untuk mengurangi kotoran ikan dan mengurangi bau tanah pada daging ikan (jika dibutuhkan).

Sunday, December 23, 2018

Cara Mengatasi Penyakit Pada Budidaya Ikan

Penyakit pada saat budidaya ikan sering menjadi masalah yang serius dan tidak sepenuhnya dapat diatasi. Sehingga banyak orang yang ragu untuk budidaya ikan. Penyakit dapat menyerang pertumbuhan ikan, mulai dari penetasan telur, pembenihan, sampai pembesaran. Namun, hal tersebut hendaknya harus disikapi sebagai tantangan dan mencari jalan keluarnya, bukan semakin pesimis. 

Penyakit pada ikan merupakan segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada kelangsungan hidup ikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan penyakit pada ikan dapat disebabkan oleh organisme lain, pakan, maupun kondisi lingkungan yang dapat menunjang kehidupan ikan. 

Dengan demikian timbulnya penyakit ikan di dalam media kolam merupakan akibat interaksi yang tidak serasi pada ikan, kondisi lingkungan, dan organisme penyakit. Penyebab penyakit pada ikan dilatarbelakangi oleh media air tempat hidup ikan, aliran air, kontak langsung antara ikan sakit dengan ikan yang sehat, dan kontak tidak langsung melalui peralatan yang telah terkontaminasi virus. Hal inilah yang menyebabkan ikan mudah terserang penyakit.

1. Menjaga Media Air
Meskipun dari jenis ikan air tawar ada yang memiliki ketahanan hidup yang kuat terhadap kondisi tertentu, namun tindakan pencegahan dengan memperhatikan kualitas dan kuantitas air sangat diperlukan.

Dalam kondisi buruk, media air dapat memfasilitasi penyebaran penyakit. Oleh sebab itu air harus dipertahankan agar tetap optimal, baik secara fisik, mencakup suhu, cahaya dan kecerahan. Kondisi kimiawi mencakup kadar O2. CO2, NH3, H2S, NO2, dan pH perairan. Sedangkan kondisi biologi mencakup, mikroorganisme patogen, plankton, dan organisme perairan lainnya. Kebutuhan suhu perairan pada saat budidaya ikan antara 24-28oC, sedangkan rata-rata suhu di daerah tropis 24-33oC. Dan kecerahan media air yang relatif baik berkisar 30-40 cm, yaitu kedalaman di mana perbedaan warna suatu benda dapat terlihat. Nilai pH dalam suatu perairan sangat berhubungan dengan kandungan CO2, jika kadar CO2 tinggi maka pH menjadi rendah atau asam, begitu juga sebaliknya. Kandungan CO2 yang baik untuk ikan sekitar 2-5 ppm. Amoniak (NH3), hidrogen sulfida (H2S), dan nitrit (NO2) merupakan senyawa kimia yang sangat berbahaya bagi kehidupan ikan. NH3 merupakan produk akhir katabolisme protein yang disekresikan keluar tubuh ikan melalui insang dan kulit, yang bersifat sangat toksik bagi ikan. H2S terbentuk secara anaerobik sebagai hasil  dekomposisi materi organik yang mengandung sulfat (S) yang ada dalam sedimen suatu perairan. NO2 merupakan sisa hasil metabolisme protein ikan, sisa metabolisme berupa amoniak akan di oksidasi oleh bakteri nitromonas menjadi nitrit dan selanjutnya dioksidasi oleh bakteri notrobacter menjadi nitrat. Nilai batasan kondisi biologi yang perlu diperhatikan yaitu tidak boleh terjadinya blooming plankton. Kematian massal pada plankton dapat menyebabkan pembusukan di perairan sehingga menimbulkan penyakit pada ikan.

2. Penyakit Nonparasiter
Penyakit nonparasiter tidak disebabkan oleh adanya serangan parasit, tetapi oleh gangguan media tempat hidup, malnutrisi, neoplasia.

a. Media Tempat Hidup
Media hidup dalam hal ini adalah air. Terdapat kondisi air yang dapat menyebabkan munculnya serangan penyakit pada budidaya ikan, di antaranya adalah.
- Kekurangan oksigen;
- Peruahan suhu.

b. Malnutrisi
Penyediaan pakan yang cukup pada budidaya ikan sangat dibutuhkan. Kekurangan gizi seperti protein, lemak dan vitamin dapat menyebabkan penyakit fisik pada ikan. Gejala mal nutrisi pada ikan akan terlihat adanya keriput pada kulit ikan, insang terlihat tidak cerah, tubuh membengkok sirip rusak, pertumbuhan terhambat, gerakan lemas, dan berenang secara tidak teratur.

c. Neoplasia
Penyakit jenis ini ditandai dengan adanya pertumbuhan sel baru yang tidak terkendali. Gejala serangan penyakit ini terlihat dari adanya benjolan, jaringan rusak, tubuh berlendir, pendarahan, ikan berenang secara tidak beraturan, lemas, dan tidak nafsu makan. Pencegahannya, hindari lingkungan yang dapat menimbulkan racun, dan hindari pemberian obat-obatan yang berlebihan (sesuaikan takaran).

3. Penyakit Parasiter
Penyakit parasiter disebabkan oleh serangan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan virus. Dalam kondisi fisiologis yang prima, keberadaan mikroorganisme akan menjadi baik di tubuh maupun media hidup ikan, tidak menyebabkan penyakit. Namun dalam konidisi stres, ikan akan mudah terserang mikroorganisme.

Ikan yang stres akan mengalami rangkaian perubahan morfologi, biokimia, dan fisiologi yang disebut dengan general adaptive syndrome (GAS). GAS terdiri atas 3 stadium, yaitu:
- bereaksi;
- menahan;
- kelelahan.

a. Cara Pengobatan
Cara pengobatan ikan yang sakit dikenal dengan beberapa macam. Pemilihan cara yang akan diambil harus mempertimbangkan berbagai faktor, yaitu efektivitas, efisiensi, jenis penyakit, jenis media budidaya, dan persediaan dana. Berikut cara pengobatan yang bisa dilakukan.

- Perendaman
Perendaman dengan cara ikan yang terserang penyakit diambil kemudian dilakukan perendaman menggunakan larutan senyawa kimia atau obat-obatan yang menyesuaikan dengan kondisi ikan.

- Melalui pakan
Cara ini dapat dilakukan dengan mencampurkan obat atau cairan senyawa kimia ke dalam pakan yang akan diberikan pada ikan.

- Penyuntikan
Penyuntikan pada ikan menjadi cara yang cukup efektif dilakukan pada ikan dalam jumlah sedikit. Penyuntikan lebih cendderrung dilakukan terhadap ikan yang terserang parasit dengan antibiotik. Penyuntikan yang lazim dilakukan pada bagian punggung ikan.

4. Ciri Ikan Yang Sakit
Ikan yang sakit dapat dikenali dari ciri-ciri sebagai berikut:
- terjadinya perubahan warna;
- tubuh menjadi kurus;
- terjadinya pembengkakan pada perut;
- tulang bengkok;
- tutup insang tidak sempurna;
- sisik lepas, renggang, dan berbecak;
- insang pucat, berlendir, dan berdarah.

Saturday, December 15, 2018

Persiapan Kolam Sebelum Tebar Benih Ikan

Dalam budidaya ikan, media utama yang harus dipersiapkan adalah kolam. Selain menjadi persiapan yang utama, kolam menjadi sumber penghidupan pada ikan saat budidaya sedang berlangsung, dan kolam juga dapat menentukan  jumlah kepadatan ikan guna memaksimalkan hasil panen yang memuaskan. Banyak  para pembudidaya ikan yang menggunakan berbagai jenis kolam, mulai dari kolam tanah, kolam beton dan kolam terpal. Semua jenis kolam sama-sama mempunyai manfaat dan karakter yang berbeda-beda, mulai dari cara pembuatannya sampai persiapan yang membutuhkan perawatan khusus guna mendapatkan hasil yang diharapkan.

Dari kesemua jenis kolam tersebut, terdapat keuntungan masing-masing pada setiap kolam. Mulai dari biaya pembuatan sampai efisiensi dalam pemanfaatannya. Seperti kolam tanah misalnya, kolam jenis ini dalam pembuatannya membutuhkan tenaga yang ekstra, sebab membuatnya dengan cara manual yakni dengan di keduk/digali dengan kedalaman yang sesuai kebutuhan. Walaupun dapat dilakukan dengan bantuan alat berat, mengingat biayanya yang tidak sedikit menjadi kendala tersendiri bagi pembudidaya yang memiliki keterbatasan modal. Namun pada kenyataannya, saat ini kolam tanah lambat laun mulai ditinggalkan, selain perawatannya yang relatif lebih sulit juga sudah tidak efektif lagi, kecuali bagi para pembudidaya dalam skala besar yang masih tetap mempertahankannya.

Seperti halnya saat ini, banyak pembudidaya ikan menggunakan kolam dengan media beton dan terpal. Kolam beton dan terpal menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mencoba berbisnis budidaya ikan, sebab kolam beton dan terpal termasuk dalam katagori media yang sederhana dalam pembuatannya, berbeda dengan kolam tanah. Selain itu, limbah kolam yang sudah tak terpakai dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang bermanfaat lainnya, atau mudah dalam pengembalian lahan menjadi seperti sedia kala, terlebih dengan kolam terpal yang sangat praktis dalam pengaplikasiannya. Tak jarang banyak pembudidaya menggunakan kolam terpal.

Di sini saya akan membahas persiapan kolam sebelum tebar benih ikan kedalam kolam, mengapa demikian? Pada awal budidaya ikan, khususnya menggunakan kolam yang baru dibuat, tentu kita harus benar-benar memperhatikan keadaan kolam dengan baik, agar tidak menyesal nantinya. Sebab kolam yang baru dibuat harus membutuhkan perawatan berkala sebagai syarat mutlak dalam budidaya, kolam yang baru masih menyisakan zat-zat berbahaya yang dihasilkan dari terpal dan semen beton, jika hal ini diabaikan kemudia dilanjutkan dengan penebaran benih, yang ada benih ikan akan mengalami kematian. Lalu persiapan seperti apa yang harus dilakukan??

Dalam pembuatan kolam yang baru, hal-hal yang perlu dilakukan sebelum penebaran benih yaitu dengan membersihkan zat-zat kimia berbahaya bagi kehidupan ikan yang dihasilkan dari terpal atau semen pada kolam baru.

1. Kolam Beton



Pada kolam beton, yang perlu diperhatikan yaitu penanganan bekas semen yang masih membekas pada kolam, jika dibiarkan akan berdampak buruk pada kehidupan ikan. Biasanya pembudidaya menghilangkan bekas semen menggunakan pelepah pisang yang di lumatkan kemudian dan di rendam ke dalam kolam selama beberapa hari. Atau ada juga yang menggunakan kotoran ternak seperti sapi, kerbau yang kemudian dioleskan secara merata pada permukaan kolam dan didiamkan selama beberapa hari. Cara-cara seperti itu dianggap bisa menghilangkan bekas semen pada kolam, namun ada cara yang sebenarnya lebih sederhana dibandingkan dengan cara-cara di atas, cukup diisi dengan air hingga penuh pada kolam, kemudian didiamkan selama beberapa hari sampai kira-kira permukaan kolam ditumbuhi lumut seperti contoh gambar di atas, setelah itu kuras airnya dan sikat permukaan kolam secara merata dan kemudian dibilas kembali dengan air mengalir. Cara seperti ini tergolong lebih sederhana tanpa menggunakan bahan-bahan yang tak lazim misalnya kotoran sapi, dan hasilnya pun sama-sama baik.

2. Kolam Terpal



Selanjutnya cara mensterilisasikan kolam terpal, dampak berbahaya yang paling besar terdapat dari bahan terpal ketimbang semen. Zat kimiawi dari terpal yang baru sangat kuat, itu sebabnya pembudidaya harus lebih berhati-hati untuk mengaplikasikan terpal sebagai media kolam. Cara membersihkannya juga tergolong lebih mudah, dapat menggunakan daun pepaya yang sudah dipotong-potong kemudian dicampurkan dengan air dan direndam selama beberapa hari kedalam kolam. Setelah air kolam mulai di tinggali jentik nyamuk tandanya kolam siap digunakan, terlebih dahulu bersihkan kolam bekas rendaman daun pepaya dengan menyikat permukaan kolam sampai merata, daun pepaya mengandung getah yang membuat permukaan terpal terasa licin seperti terdapat lendir.

Catatan : Air yang digunakan untuk mensterilisasikan kolam baru, menggunakan air dengan ketinggian menyesuaikan pada tingginya kolam untuk proses budidaya.

Setelah kolam sudah steril, selanjutnya usahakan kita memiliki penampungan air untuk mengisi kolam. Penampungan air berguna untuk mengendapkan air selama beberapa hari sampai air benar-benar bersih dari limbah atau partikel-partikel yang dapat menghambat pertumbuhan ikan. Cara seperti ini banyak diabaikan oleh pembudidaya, padahal cara ini termasuk bagian dari persiapan kolam sebelum tebar benih ikan. Jika air sudah siap, anda dapat membuat fermentasi pada air kolam. Demikian cara untuk mempersiapkan kolam sebelum tebar benih.

SEMOGA BERMANFAAT DAN SELAMAT MENCOBA..

Tuesday, December 11, 2018

Cara Membuat Fermentasi Air Kolam Budidaya Ikan

Dalam budidaya ikan banyak faktor-faktor yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan tebar benih ikan ke dalam media kolam, antara lain yang perlu dipersiapkan adalah air, vitamin dan probiotik menjadi menu utama dalam budidaya. Air kolam sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup ikan selama budidaya berlangsung, jika kita tidak dapat mengontrol air kolam dengan baik sebagaimana mestinya, maka yang akan kita jumpai adalah kerugian! Sebab hampir 50% kelangsungan hidup pada ikan ditentukan oleh kualitas air, walaupun ada beberapa jenis ikan yang mampu bertahan hidup di air yang kondisinya buruk namun bukan berarti ikan akan selalu tumbuh dalam keadaan baik atau sehat, ikan akan cenderung kerdil.

Namun ironinya masih banyak pembudidaya ikan yang masih tidak peduli dengan kondisi air tersebut, mereka menganggap perubahan air pada saat budidaya adalah kejadian alami dan tidak perlu di risaukan, parahnya lagi banyak pembudidaya lain yang meng-iya-kan pendapat semacam itu. Tentu kejadian ini menjadi problem yang tak pernah terselesaikan. Memang selama periode budidaya ikan, air kolam akan mengalami perubahan yang signifikan dari warna air saat pertama kali di tebar benih, kejadian seperti ini yang sering disepelekan bagi pembudidaya ikan pada umumnya.

Perubahan warna air pada kolam ikan dianggap normal atau bahkan baik jika sebelum penebaran benih ke dalam kolam pembudidaya mengaplikasikan sistem fermentasi air, hal ini justru akan membuat warna air kolam berubah warnanya menjadi coklat kehijauan, dan atau coklat kemerahan, karena ini memang bagian dari reaksi positif air yang menggunakan sistem fermentasi. Di mana plankton yang dihasilkan dari fermentasi tersebut dapat berkembang dan akan berdampak positif bagi kehidupan ikan selama periode budidaya. Berbeda dengan perubahan warna yang tidak mengaplikasikan sistem fermentasi air, perbedaan warna tersebut memungkinkan kondisi air yang buruk sebab kotoran ikan dan sisa pakan yang tak dapat terurai dengan baik sehingga menjadikan amonia pada kolam yang akan berdampak kematian pada ikan.

Oleh sebab itu, teliti dalam mengelola air pada kolam menjadi tugas prioritas dalam budidaya ikan. Dengan tidak mengesampingkan prosedur yang ada menjadi pilihan bijak bagi pembudidaya. Adapun beberapa cara yang dapat diaplikasikan ke dalam air kolam menggunakan sistem fermentasi beserta bahan-bahannya.

Bahan-bahan yang dibutuhkan:

Gambar 1 : Dedak/bekatul

Gambar 2 : Molase/tetes tebu

Gambar 3 : Ragi

Gambar 4 : Kapur

Bahan:
1. Dedak/bekatul 2 Kg
2. Molase/tetes tebu 250 ml
3. Ragi 5 gr
4. Kapur 1 genggam

Cara:
1. Dedak dicampur molase dan dicampur air secukupnya (basah/nyemek)
2. Tuangkan ragi dan diaduk hingga merata
3. Masukkan kedala media wadah tertutup dan diamkan selama 48 jam (proses fermentasi)
4. Setelah hari ketiga buka dan campur dengan kapur 1 genggam
5. Encerkan dengan air dan saring airnya
6. Tebar merata pada kolam dan nyalakan aerasi kolam selama 24 jam
7. Ulangi cara di atas untuk pengaplikasian 3 hari kemudian
8. Ulangi setiap 3 hari sampai air berubah warna menjadi kecoklatan
9. Kontrol dengan cara memasukan tangan ke kolam sedalam 25 cm, jika tangan sudah terlihat kabur      berarti benih sudah siap ditebar.

Pada sistem fermentasi perubahan air akan dapat dirasa seiring berjalannya waktu, meskipun air akan berubah warna dari biasanya bukan berarti air tidak perlu untuk diganti. Walaupun sistem fermentasi dapat kita terapkan namun air tetap tidak terlepas dari pengecekan, air juga perlu diganti perlahan jika air terasa bau tidak sedap. Tapi kalau air masih dalam kondisi baik artinya tidak berbau, maka air tidak perlu untuk diganti.

Gambar 5 : Masa periode budidaya lele

Gambar 6 : Perubahan warna yang signifikan

Demikian cara fermentasi air serta cara membuatnya, semoga bermanfaat..

Budidaya Ikan Kolam Bundar

Dalam budidaya ikan persiapan kolam menjadi faktor utama yang harus diperhitungkan, baik dari jenis kolam apa yang hendak digunakan sampai kebersihan kolam harus terjaga dengan baik, hal ini guna memicu pertumbuhan ikan menjadi sehat dan tentunya akan berdampak positif pasca pemanenan. Banyaknya referensi jenis kolam yang berkembang luas tentu akan menjadi pilihan yang perlu diperhitungkan, tentu semua itu harus disesuaikan dengan situasi tempat dan selera setiap individu. Jika lahan sempit maka dapat menggunakan jenis kolam yang sederhana dan memiliki diameter yang lebih kecil, namun jika memiliki lahan yang cukup luas maka bisa menggunakan jenis kolam beton atau bahkan kolam tanah buatan dengan diameter yang lebih besar.

Melihat kondisi saat ini dimana jumlah penduduk semakin tahun semakin bertambah banyak, maka lahan-lahan yang luas semakin berharga keberadaannya, artinya masyarakat akan lebih memilih menginfestasikan lahannya untuk manifestasi jangka panjang daripada harus dibuat kolam tanah buatan, yang dianggap sudah tidak efektif lagi saat ini. Dengan demikian banyak alternatif lain untuk membuat kolam ikan selain menggunakan kolam tanah buatan, yang tentu akan lebih ramah lingkungan dan lebih efektif dan efisien.

Seperti saat ini yang cukup menarik perhatian banyak orang atas keberadaannya yaitu kolam bundar dengan diameter yang lebih kecil, dan mampu menampung bibit ikan hingga panen sampai 10 kali lipat banyaknya. Sampai-sampai hampir semua pembudidaya ikan tradisional beralih ke kolam bundar, melihat keuntungannya yang lebih sederhana dan ringkas dibandingkan kolam tanah. Kolam bundar disebut-sebut sebagai inovasi yang sangat menguntungkan, dan sangat ramah lingkungan, sebab diameternya yang lebih kecil dan sederhana untuk dapat pengaplikasikan di mana pun tempat, termasuk di halaman rumah yang sempit.


 Gambar 1 : Kolam bundar di lahan yang sempit

Selain dimensinya yang kecil dan sederhana, keuntungan lain dari kolam bundar yaitu dapat menampung bibit ikan hingga panen dengan jumlah tebar yang sangat padat, kolam bundar dengan diameter 2 dapat menampung bibit lele hingga panen sampai 3000 ekor lele. Hal ini dikarenakan dimensi kolam yang bundar akan membuat ikan terus aktif bergerak dan tidak cenderung diam di pojok kolam sebagaimana kolam yang dimensinya kotak. Situasi ini akan memicu kesehatan lele yang aktif bergerak, dengan dibantu aerator sebagai tambahan oksigen untuk mencukupi kebutuhan ikan yang jumlah tebarnya padat.


Gambar 2 : Proses pembuatan kolam bundar di lahan yang sempit


Kolam bundar menjadi alternatif bagi siapa saja yang ingin mencoba budidaya ikan dengan modal yang relatif lebih murah dan ramah lingkungan, lahan yang sempit sekalipun bukan menjadi permasalahan yang besar. Kolam bundar menjawab semua permasalahan siapapun yang ingin usaha budidaya ikan namun tidak adanya lahan yang memadai, bahkan yang baru memulai budidaya ikan bisa mencoba dengan menggunakan konstruksi kolam bundar.

Walaupun banyak yang berpendapat bahwa kolam terpal tidak akan menghasilkan panen yang lebih baik seperti pada kolam tanah, dengan alasan tidak adanya nutrisi yang diperoleh dari dasar kolam, tidak seperti kolam tanah yang dapat memberikan nutrisi secara alami. Namun pendapat seperti itu tidak demikian, justru kolam terpal akan menghasilkan panen yang lebih baik daripada kolam tradisional jika dalam merawatnya dengan cara yang baik dan benar. Begitupun sebaliknya, kolam tanah tradisional tidak akan menghasilkan panen yang baik jika dalam merawatnya tidak benar. Pada kenyataannya saat ini banyak pembudidaya menggunakan kolam terpal bundar. Semua berdasarkan cara bagaimana merawatnya yang baik dan benar, perawatan dalam budidaya ikan menjadi prioritas yang harus diperhatikan, mulai dari vitamin, probiotik dan pakan yang benar guna mendapatkan hasil yang maksimal.

Monday, December 10, 2018

Sistem Bioflok Padat Tebar Ikan

Pengaruh terbesar dalam budidaya ikan adalah makanan, sebab pakan dapat menentukan  baik buruknya pertumbuhan ikan dan juga kesehatan ikan. Makanan dalam dalam hal ini, tidak sepenuhnya kita asumsikan hanya pellet saja, akan tetapi apa saja yang dimakan oleh ikan selama  periode budidaya berlangsung. Pakan yang sudah diberikan pada ikan, tidak sepenuhnya dapat diserap oleh tubuh ikan secara sempurna, akan tetapi kurang lebih sebesar 20-30% saja, dan sisanya akan terbuang melalui insang dan anus yang menjadi kotoran. Seiring berkembangnya inovasi-inovasi dan teknologi alamiah, terdapat berbagai metode atau cara yang dikemukakan untuk mengolah kotoran dan sisa pakan menjadi senyawa yang bermanfaat untuk pertumbuhan ikan, salah satunya yaitu sistem Bioflok.

Bioflok adalah merupakan suatu sistem yang memanfaatkan bakteri pembentuk Flok dalam pengelolaan limbah selama budidaya. Bioflok merupakan agregat diatom, makroalga, sisa pellet, eksoskeleton organisma mati, bakteri, protista dan invertebrata. Flok yang terbentuk inilah yang akan dimanfaatkan sebagai tambahan pakan ikan yang mengandung nutrisi yang tinggi, yang mampu disandingkan dengan pakan alami seperti pellet, sehingga pertumbuhan ikan sangat cepat dan dapat mengurangi jumlah pakan normal. 

Dapat disimpulkan bahwasanya teknologi sistem bioflok menjadi teknologi yang sangat rekomendasi yang memanfaatkan hasil metabolisma ikan yang mengandung nitrogen untuk diubah menjadi protein yang dapat dimanfaatkan oleh ikan secara instan, sehingga ikan yang dibudidayakan dapat memperoleh protein tambahan dari pakan alami yang disebut Flok, disamping pakan pellet yang diberikan.

Dalam budidaya ikan dengan sistem bioflok merupaka teknik pemeliharaan dengan memaksimalkan wadah/media kolam yang sangat terbatas, di mana airnya dikondisikan menjadi kaya microorganisme bermanfaat yang akan menguraikan kotoran ikan menjadi makanan lagi. Kotoran akan menjadi gumpalan-gumpalan kecil yang mana hal terebut yang akan menjadi pakan alami hasil bioflok.

Sistem bioflok dibandingkan dengan sistem tradisional dalam budidaya ikan tentu menjadi perbandingan terbalik di antara keduanya, budidaya ikan dengan sistem tradisional tentu akan membutuhkan persiapan yang ekstra besar, mulai dari media kolam yang biasa kita jumpai menggunaka kolam beton, kolam tanah buatan, yang jelas sudah kurang efektif lagi di zaman melenial seperti saat ini, atau dapat dikatakan tidak ramah lingkungan. Tidak hanya persiapan kolam saja yang membutuhkan modal dan lahan yang besar, dalam pengaplikasian pakan pun dirasa sangat kurang efektif, sebab selama periode budidaya untuk memberikan nutrisi pada ikan hanya mengandalkan pakan berupa pellet saja, tanpa adanya pakan alami sebagai pakan pendamping dan nutrisi yang baik bagi ikan. Tentu hal ini akan membuat pengeluaran akan semakin membengkak, mengingat harga pakan semakin tahun semakin naik.


Oleh sebab itu sistem bioflok menjadi alternatif pemilihan yang sangat sederhana dan praktis untuk budidaya ikan secara intensif, selain dimensi kolam yang tergolong lebih kecil namun dapat memuat bibit ikan dengan jumlah yang banyak, juga dalam menerapkan sistem tersebut tidak harus memiliki lahan yang luas. Dimensi yang kecil dengan padat tebar yang tinggi akan menghasilkan kesetaraan bobot ikan yang maksimal, tanpa melakukan penyortiran ikan seperti pada umumnya. Dalam hal ini disebabkan flok yang terjadi membuat ikan tidak kekurangan pakan, sehingga ikan akan bertumbuh selaras dengan ikan-ikan yang lain.

Budidaya Ikan Air Tawar Dengan Sistem Bioflok

Dewasa ini melihat antusiasme masyarakat melakukan kegiatan di bidang perikanan mulai banyak dijumpai, khususnya pembudidaya ikan air tawar. Bahkan hampir di setiap rumah dapat kita jumpai kolam-kolam ikan yang terlihat di halaman rumahnya, baik dalam skala besar maupun skala kecil. Ini artinya permintaan pasar terhadap ikan terus mengalami peningkatan, sebab ikan adalah salah satu pilihan favorit masyarakat untuk dijadikan menu makanan wajib ketika perut terasa lapar. Dengan demikian masyarakat banyak memanfaatkan waktu luangnya untuk membudidaya ikan sebagai tambahan penghasilan disamping pekerjaan utamanya, bahkan lebih-lebih telah memfokuskan untuk membudidaya ikan dengan skala besar sebagai mata pencahariannya.

Itu sebabnya banyak masyarakat memanfaatkan peluang yang ada baik waktu maupun tempat untuk membudidayakan ikan dengan berbagai macam metode dan teknik selama budidaya berlangsung. Budidaya ikan menjadi komoditas tersendiri di berbagai daerah di Indonesia, mengingat permintaan pasar yang tak pernah lesu akan kebutuhan ikannya, sehingga menjadikan masyarakat termotivasi untuk mencoba membudidayakan ikan. Ini salah satu peluang yang bagus untuk mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia, saat siapa saja yang mungkin belum atau susah mendapat pekerjaan tetap, budidaya ikan dapat dijadikan salah satu jalan alternatif untuk berwirausaha.

Saat ini banyak bermunculan inovasi-inovasi yang dianggap menguntungkan bagi masyarakat yang hendak melakukan kegiatan budidaya ikan, salah satunya yang cukup populer saat ini adalah budidaya ikan dengan menggunakan sistem Biofloc, budidaya ikan dengan sistem Biofloc dapat diaplikasikan dengan berbagai jenis ikan yang banyak di budidaya masyarakat pada umumnya termasuk Lele, Gurame, Nila, Patin, Baung dll.

Gambar : Sistem Biofloc

Budidaya ikan dengan sistem Biofloc yang sangat menarik untuk dibahas ialah, jika kita ketahui faktor terbesar dalam budidaya ikan selama ini ada pada jumlah pakan, kebutuhan pakan menjadi modal terbesar dalam budidaya yang mencapai sekitar 50-70%. Tentu ini akan menjadi masalah besar yang harus dicari jalan keluarnya. Banyak pembudidaya merekayasa pakan dengan berbagai macam bahan dan olahan yang kemudian disandingkan dengan pakan pellet  untuk menekan jumlah pakan supaya lebih hemat, namun pada kenyataannya masyarakat pembudidaya tidak tau apakah pakan tambahan tersebut bernutrisi atau tidak, jika tidak maka dampaknya akan sangat fatal.

Budidaya dengan sistem biofloc dapat memangkas kebutuhan pakan ikan hingga 50% lebih hemat daripada pakan normal. Tidak hanya itu, dalam budidaya ikan sistem biofloc juga tidak harus membutuhkan kolam berdiameter besar yang memerlukan lahan yang luas, atau menggunakan kolam beton yang di rasa tidak ramah lingkungan, sistem bioflok dapat menggunakan kolam dengan diameter kecil saja dan mampu menampung ikan dengan kapasitas yang sangat banyak. Itu dikarnakan floc yang terjadi di dalam air budidaya dapat dijadikan makanan alami untuk ikan, dengan demikian asupan pakan dan nutrisi ikan pada kolam tidak akan kekurangan walau pemberian pakan pelet dikurangi dari jumlah normal.

Biofloc menjadi kabar gembira bagi para pembudidaya ikan yang mungkin selama ini merasa resah akibat mahalnya harga pakan yang semakin hari semakin meningkat, dengan adanya sistem biofloc pemberian pakan ikan menjadi hemat dan yang pasti keuntungan hasil panen juga akan ikut meningkat. Perlu kita waspadai dalam budidaya ikan, dengan tidak semabarangan dalam pemberian pakan menjadi kunci terlaksananya etika dalam mengelola tanggungjawab sebagai pembudidaya yang baik.

Cara Pembesaran Budidaya Ikan Gurame

Pembesara ikan gurame menjadi usaha yang paling akhir dilakukan setelah proses pembenihan, pembesaran merupakan kegiatan pemeliharaan yang ...