Showing posts with label kolam ikan. Show all posts
Showing posts with label kolam ikan. Show all posts

Saturday, December 15, 2018

Persiapan Kolam Sebelum Tebar Benih Ikan

Dalam budidaya ikan, media utama yang harus dipersiapkan adalah kolam. Selain menjadi persiapan yang utama, kolam menjadi sumber penghidupan pada ikan saat budidaya sedang berlangsung, dan kolam juga dapat menentukan  jumlah kepadatan ikan guna memaksimalkan hasil panen yang memuaskan. Banyak  para pembudidaya ikan yang menggunakan berbagai jenis kolam, mulai dari kolam tanah, kolam beton dan kolam terpal. Semua jenis kolam sama-sama mempunyai manfaat dan karakter yang berbeda-beda, mulai dari cara pembuatannya sampai persiapan yang membutuhkan perawatan khusus guna mendapatkan hasil yang diharapkan.

Dari kesemua jenis kolam tersebut, terdapat keuntungan masing-masing pada setiap kolam. Mulai dari biaya pembuatan sampai efisiensi dalam pemanfaatannya. Seperti kolam tanah misalnya, kolam jenis ini dalam pembuatannya membutuhkan tenaga yang ekstra, sebab membuatnya dengan cara manual yakni dengan di keduk/digali dengan kedalaman yang sesuai kebutuhan. Walaupun dapat dilakukan dengan bantuan alat berat, mengingat biayanya yang tidak sedikit menjadi kendala tersendiri bagi pembudidaya yang memiliki keterbatasan modal. Namun pada kenyataannya, saat ini kolam tanah lambat laun mulai ditinggalkan, selain perawatannya yang relatif lebih sulit juga sudah tidak efektif lagi, kecuali bagi para pembudidaya dalam skala besar yang masih tetap mempertahankannya.

Seperti halnya saat ini, banyak pembudidaya ikan menggunakan kolam dengan media beton dan terpal. Kolam beton dan terpal menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mencoba berbisnis budidaya ikan, sebab kolam beton dan terpal termasuk dalam katagori media yang sederhana dalam pembuatannya, berbeda dengan kolam tanah. Selain itu, limbah kolam yang sudah tak terpakai dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang bermanfaat lainnya, atau mudah dalam pengembalian lahan menjadi seperti sedia kala, terlebih dengan kolam terpal yang sangat praktis dalam pengaplikasiannya. Tak jarang banyak pembudidaya menggunakan kolam terpal.

Di sini saya akan membahas persiapan kolam sebelum tebar benih ikan kedalam kolam, mengapa demikian? Pada awal budidaya ikan, khususnya menggunakan kolam yang baru dibuat, tentu kita harus benar-benar memperhatikan keadaan kolam dengan baik, agar tidak menyesal nantinya. Sebab kolam yang baru dibuat harus membutuhkan perawatan berkala sebagai syarat mutlak dalam budidaya, kolam yang baru masih menyisakan zat-zat berbahaya yang dihasilkan dari terpal dan semen beton, jika hal ini diabaikan kemudia dilanjutkan dengan penebaran benih, yang ada benih ikan akan mengalami kematian. Lalu persiapan seperti apa yang harus dilakukan??

Dalam pembuatan kolam yang baru, hal-hal yang perlu dilakukan sebelum penebaran benih yaitu dengan membersihkan zat-zat kimia berbahaya bagi kehidupan ikan yang dihasilkan dari terpal atau semen pada kolam baru.

1. Kolam Beton



Pada kolam beton, yang perlu diperhatikan yaitu penanganan bekas semen yang masih membekas pada kolam, jika dibiarkan akan berdampak buruk pada kehidupan ikan. Biasanya pembudidaya menghilangkan bekas semen menggunakan pelepah pisang yang di lumatkan kemudian dan di rendam ke dalam kolam selama beberapa hari. Atau ada juga yang menggunakan kotoran ternak seperti sapi, kerbau yang kemudian dioleskan secara merata pada permukaan kolam dan didiamkan selama beberapa hari. Cara-cara seperti itu dianggap bisa menghilangkan bekas semen pada kolam, namun ada cara yang sebenarnya lebih sederhana dibandingkan dengan cara-cara di atas, cukup diisi dengan air hingga penuh pada kolam, kemudian didiamkan selama beberapa hari sampai kira-kira permukaan kolam ditumbuhi lumut seperti contoh gambar di atas, setelah itu kuras airnya dan sikat permukaan kolam secara merata dan kemudian dibilas kembali dengan air mengalir. Cara seperti ini tergolong lebih sederhana tanpa menggunakan bahan-bahan yang tak lazim misalnya kotoran sapi, dan hasilnya pun sama-sama baik.

2. Kolam Terpal



Selanjutnya cara mensterilisasikan kolam terpal, dampak berbahaya yang paling besar terdapat dari bahan terpal ketimbang semen. Zat kimiawi dari terpal yang baru sangat kuat, itu sebabnya pembudidaya harus lebih berhati-hati untuk mengaplikasikan terpal sebagai media kolam. Cara membersihkannya juga tergolong lebih mudah, dapat menggunakan daun pepaya yang sudah dipotong-potong kemudian dicampurkan dengan air dan direndam selama beberapa hari kedalam kolam. Setelah air kolam mulai di tinggali jentik nyamuk tandanya kolam siap digunakan, terlebih dahulu bersihkan kolam bekas rendaman daun pepaya dengan menyikat permukaan kolam sampai merata, daun pepaya mengandung getah yang membuat permukaan terpal terasa licin seperti terdapat lendir.

Catatan : Air yang digunakan untuk mensterilisasikan kolam baru, menggunakan air dengan ketinggian menyesuaikan pada tingginya kolam untuk proses budidaya.

Setelah kolam sudah steril, selanjutnya usahakan kita memiliki penampungan air untuk mengisi kolam. Penampungan air berguna untuk mengendapkan air selama beberapa hari sampai air benar-benar bersih dari limbah atau partikel-partikel yang dapat menghambat pertumbuhan ikan. Cara seperti ini banyak diabaikan oleh pembudidaya, padahal cara ini termasuk bagian dari persiapan kolam sebelum tebar benih ikan. Jika air sudah siap, anda dapat membuat fermentasi pada air kolam. Demikian cara untuk mempersiapkan kolam sebelum tebar benih.

SEMOGA BERMANFAAT DAN SELAMAT MENCOBA..

Tuesday, December 11, 2018

Cara Membuat Fermentasi Air Kolam Budidaya Ikan

Dalam budidaya ikan banyak faktor-faktor yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan tebar benih ikan ke dalam media kolam, antara lain yang perlu dipersiapkan adalah air, vitamin dan probiotik menjadi menu utama dalam budidaya. Air kolam sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup ikan selama budidaya berlangsung, jika kita tidak dapat mengontrol air kolam dengan baik sebagaimana mestinya, maka yang akan kita jumpai adalah kerugian! Sebab hampir 50% kelangsungan hidup pada ikan ditentukan oleh kualitas air, walaupun ada beberapa jenis ikan yang mampu bertahan hidup di air yang kondisinya buruk namun bukan berarti ikan akan selalu tumbuh dalam keadaan baik atau sehat, ikan akan cenderung kerdil.

Namun ironinya masih banyak pembudidaya ikan yang masih tidak peduli dengan kondisi air tersebut, mereka menganggap perubahan air pada saat budidaya adalah kejadian alami dan tidak perlu di risaukan, parahnya lagi banyak pembudidaya lain yang meng-iya-kan pendapat semacam itu. Tentu kejadian ini menjadi problem yang tak pernah terselesaikan. Memang selama periode budidaya ikan, air kolam akan mengalami perubahan yang signifikan dari warna air saat pertama kali di tebar benih, kejadian seperti ini yang sering disepelekan bagi pembudidaya ikan pada umumnya.

Perubahan warna air pada kolam ikan dianggap normal atau bahkan baik jika sebelum penebaran benih ke dalam kolam pembudidaya mengaplikasikan sistem fermentasi air, hal ini justru akan membuat warna air kolam berubah warnanya menjadi coklat kehijauan, dan atau coklat kemerahan, karena ini memang bagian dari reaksi positif air yang menggunakan sistem fermentasi. Di mana plankton yang dihasilkan dari fermentasi tersebut dapat berkembang dan akan berdampak positif bagi kehidupan ikan selama periode budidaya. Berbeda dengan perubahan warna yang tidak mengaplikasikan sistem fermentasi air, perbedaan warna tersebut memungkinkan kondisi air yang buruk sebab kotoran ikan dan sisa pakan yang tak dapat terurai dengan baik sehingga menjadikan amonia pada kolam yang akan berdampak kematian pada ikan.

Oleh sebab itu, teliti dalam mengelola air pada kolam menjadi tugas prioritas dalam budidaya ikan. Dengan tidak mengesampingkan prosedur yang ada menjadi pilihan bijak bagi pembudidaya. Adapun beberapa cara yang dapat diaplikasikan ke dalam air kolam menggunakan sistem fermentasi beserta bahan-bahannya.

Bahan-bahan yang dibutuhkan:

Gambar 1 : Dedak/bekatul

Gambar 2 : Molase/tetes tebu

Gambar 3 : Ragi

Gambar 4 : Kapur

Bahan:
1. Dedak/bekatul 2 Kg
2. Molase/tetes tebu 250 ml
3. Ragi 5 gr
4. Kapur 1 genggam

Cara:
1. Dedak dicampur molase dan dicampur air secukupnya (basah/nyemek)
2. Tuangkan ragi dan diaduk hingga merata
3. Masukkan kedala media wadah tertutup dan diamkan selama 48 jam (proses fermentasi)
4. Setelah hari ketiga buka dan campur dengan kapur 1 genggam
5. Encerkan dengan air dan saring airnya
6. Tebar merata pada kolam dan nyalakan aerasi kolam selama 24 jam
7. Ulangi cara di atas untuk pengaplikasian 3 hari kemudian
8. Ulangi setiap 3 hari sampai air berubah warna menjadi kecoklatan
9. Kontrol dengan cara memasukan tangan ke kolam sedalam 25 cm, jika tangan sudah terlihat kabur      berarti benih sudah siap ditebar.

Pada sistem fermentasi perubahan air akan dapat dirasa seiring berjalannya waktu, meskipun air akan berubah warna dari biasanya bukan berarti air tidak perlu untuk diganti. Walaupun sistem fermentasi dapat kita terapkan namun air tetap tidak terlepas dari pengecekan, air juga perlu diganti perlahan jika air terasa bau tidak sedap. Tapi kalau air masih dalam kondisi baik artinya tidak berbau, maka air tidak perlu untuk diganti.

Gambar 5 : Masa periode budidaya lele

Gambar 6 : Perubahan warna yang signifikan

Demikian cara fermentasi air serta cara membuatnya, semoga bermanfaat..

Cara Pembesaran Budidaya Ikan Gurame

Pembesara ikan gurame menjadi usaha yang paling akhir dilakukan setelah proses pembenihan, pembesaran merupakan kegiatan pemeliharaan yang ...